Tampilkan postingan dengan label Sekarang untuk selamanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekarang untuk selamanya. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Mei 2009
Belajar dari Kepiting
- Anda tahu bagaimana caranya menangkap seekor kepiting? Cukup gunakan sebatang bambu, tali, dan batu. Buat alat pancingnya dari bambu yang diikat tali, sedangkan batu diikatkan pada ujung tali satunya. Setelah itu, ganggulah kepiting yang Anda incar dengan mengayunkan dan menyentakkan batu itu dekat si kepiting. Ketika Anda berhasil membuat si kepiting merasa terganggu dan marah, maka saat itu hewan itu akan mencapit batu kuat-kuat. Setelah itu, Anda tinggal mengangkat batang bambu dan mencemplungkan kepiting itu ke dalam panci untuk direbus hidup-hidup. Jadilah kepiting rebus yang siap santap.
Ini bukan bahasan tentang cara memancing atau bagaimana cara mengolah kepiting, namun dari peristiwa ini kita diingatkan kembali tentang bahaya kemarahan yang tak terkendali. Saat berada dalam kelelahan, kita, kaum wanita, begitu mudah marah dan tersinggung dengan apa yang terjadi di sekeliling kita.
Ibu marah pada suami dan anak-anak karena kelelahan bekerja di rumah, istri marah pada suami karena ada masalah di kantor, anak marah pada orang tua karena berselisih dengan teman, atau banyak kemarahan-kemarahan yang sering terjadi dalam hidup kita.
Coba renungkan, dalam sehari ini, berapa kali Anda menunjukkan sikap marah, tidak suka, sensitif terhadap sesama? Marah memiliki efek yang berbahaya. Karena marah, seseorang bisa kehilangan teman baik. Karena marah, seseorang bisa menghadapi masalah baru. Karena marah, seseorang bisa kehilangan jabatan dan pekerjaannya. Yang lebih menyedihkan, karena marah, seseorang dapat kehilangan keluarganya.
Jika kita melihat betapa mengerikannya dampak kemarahan itu, maka ada baiknya kita belajar untuk mengungkapkan ekspresi marah itu dengan benar. Memang tidak mudah, namun kita semua harus belajar dan kita pasti bisa mengontrol kemarahan itu kalau kita mau.
Entah batu kecil atau batu besar yang mengganggu Anda, belajarlah untuk tetap berkepala dingin dalam menghadapi segala situasi. Anda bisa mencoba menahan geram dengan melakukan beberapa trik berikut, seperti menarik nafas panjang, mencuci muka, menghitung, maupun pergi menyendiri atau menyingkir dari lokasi kemarahan.
Marah itu timbul karena adanya rasa tidak terima terhadap suatu hal yang terjadi. Marah hanya akan menarik orang-orang terdekat menjauhi Anda. Marah hanya akan membuat buah hati Anda takut mendekati Anda. Marah hanya membesarkan emosi dan menutup jalan komunikasi yang sehat. Oleh sebab itu, tinggalkanlah panas hati atau kemarahan itu, karena hal tersebut hanya membawa kerugian bagi Anda.
Bukankah lebih baik jika kita menyampaikan keberatan kita akan suatu hal dengan cara yang lebih baik dari pada dengan nada marah?! Jadi, jika Anda mulai merasa marah, berdiam dirilah, menyendirilah, sampai Anda dapat berpikir jernih kembali. Bicarakan keberatan-keberatan Anda dengan cara yang bijak. Orang yang bersabar adalah orang yang mudah menerima kenyataan yang ada dan tidak memaksakan kehendaknya. (bbl/meg)
Minggu, 02 November 2008 15:38 (KapanLagi.com)
Katakan Hal Positif
"Hai kaum ibu, kaum istri, kaum remaja puteri, semua kaum sebenarnya, ada keajaiban dalam kata-kata yang kita ucapkan." Setiap kata yang kita ucapkan ternyata memiliki pengaruh dan potensi besar untuk terjadi. Mungkin karena hal inilah sampai muncul sebuah pernyataan 'Hati-hati dengan apa yang kau katakan, karena itu mungkin terjadi".
Sebuah ilustrasi mungkin dapat membuat kita mengerti betapa berkuasanya kata-kata yang kita ucapkan. Alkisah seorang ibu yang sudah bertahun-tahun menikah dan lama tidak punya anak, tiba-tiba dikaruniai seorang anak laki-laki. Ibu itu begitu bahagia, dia merawat putranya dengan penuh kasih sayang.
Sejak kecil, sang ibu selalu berkata pada anaknya,"Kamu adalah anak yang baik.". Saat sang anak hendak tidur, pergi sekolah, saat makan, begitu seringnya kalimat sederhana itu diucapkan. Hari berganti hari, sang anak pun tumbuh dewasa.
Pada suatu hari, sang anak terlibat dalam perkelahian di sekolahnya. Sang ibu pun dipanggil oleh kepala sekolah dan anak itu diskors. Ketika pulang ke rumah, sang ibu hanya berkata," Nak, hari ini ibu merasa kecewa padamu. Tapi, ibu memaafkanmu. Ibu hanya percaya bahwa kamu adalah seorang anak yang baik, meski kelakuanmu hari ini berkata sebaliknya."
Sang anak tercengang. Dia berpikir bahwa sesampainya di rumah, ibunya pasti akan mengomelinya. Namun, sikap diam dan perkataan lembut ibunya justru membuat hatinya luluh dan menyesal. Selama ini dia berpikir bahwa kalimat sang ibu yang kerap diucapkan hanyalah kalimat biasa saja. Namun, ternyata lebih dari itu....Sejak itu sang anak pun bertekad untuk menjadi seperti yang ibunya sering katakan, anak baik.
Sebuah kasus lagi, ada seorang suami yang tidak berselingkuh, namun istrinya yang pencemburu selalu mencurigainya dan menuduhnya berselingkuh. Lama kelamaan karena bosan dan jengkel, sang suami pun jatuh dalam perselingkuhan.
Hati-hati dengan yang kita ucapkan, karena kita akan memakan buah perkataan kita! (bbl/meg)
(KapanLagi.com Kamis, 30 Oktober 2008 11:21)
Sebuah ilustrasi mungkin dapat membuat kita mengerti betapa berkuasanya kata-kata yang kita ucapkan. Alkisah seorang ibu yang sudah bertahun-tahun menikah dan lama tidak punya anak, tiba-tiba dikaruniai seorang anak laki-laki. Ibu itu begitu bahagia, dia merawat putranya dengan penuh kasih sayang.
Sejak kecil, sang ibu selalu berkata pada anaknya,"Kamu adalah anak yang baik.". Saat sang anak hendak tidur, pergi sekolah, saat makan, begitu seringnya kalimat sederhana itu diucapkan. Hari berganti hari, sang anak pun tumbuh dewasa.
Pada suatu hari, sang anak terlibat dalam perkelahian di sekolahnya. Sang ibu pun dipanggil oleh kepala sekolah dan anak itu diskors. Ketika pulang ke rumah, sang ibu hanya berkata," Nak, hari ini ibu merasa kecewa padamu. Tapi, ibu memaafkanmu. Ibu hanya percaya bahwa kamu adalah seorang anak yang baik, meski kelakuanmu hari ini berkata sebaliknya."
Sang anak tercengang. Dia berpikir bahwa sesampainya di rumah, ibunya pasti akan mengomelinya. Namun, sikap diam dan perkataan lembut ibunya justru membuat hatinya luluh dan menyesal. Selama ini dia berpikir bahwa kalimat sang ibu yang kerap diucapkan hanyalah kalimat biasa saja. Namun, ternyata lebih dari itu....Sejak itu sang anak pun bertekad untuk menjadi seperti yang ibunya sering katakan, anak baik.
Sebuah kasus lagi, ada seorang suami yang tidak berselingkuh, namun istrinya yang pencemburu selalu mencurigainya dan menuduhnya berselingkuh. Lama kelamaan karena bosan dan jengkel, sang suami pun jatuh dalam perselingkuhan.
Hati-hati dengan yang kita ucapkan, karena kita akan memakan buah perkataan kita! (bbl/meg)
(KapanLagi.com Kamis, 30 Oktober 2008 11:21)
Langganan:
Postingan (Atom)
